Industri konstruksi dan bangunan menjadi salah satu penyumbang emisi besar yang menyebabkan pemanasan global. Hal ini diakibatkan penggunaan material tak ramah lingkungan seperti baja, beton, hingga kayu hutan menjadi balok, kolom, tulangan, dinding, dan atap bangunan. Proses pengambilan material tersebut dari alam dan pemrosesannya hingga menjadi bahan siap pakai kerap kali merusak lingkungan. Tentu hal ini kemudian menjadi fokus para praktisi di bidang konstruksi mengenai bagaimana menciptakan material dengan keunggulan mekanis yang mendekati, namun dengan dampak lingkungan yang lebih kecil. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah menggunakan material ekologis sebagai alternatif material konvensional tadi.
Serat Bambu dan Keunggulannya
Bambu di Indonesia dapat ditemukan di dataran rendah hingga pegunungan di tempat-tempat terbuka dan daerah bebas dari genangan air. Berdasarkan penelitian Kaur et al. (2022), biomassa bambu terkenal akan harganya yang murah, jumlahnya yang melimpah, laju pertumbuhannya tinggi, dan kemampuan mekanisnya yang hampir menyamai kayu sehingga menjadikannya alternatif material yang menarik dalam pengembangan infrastruktur hijau. Secara tradisional, di Indonesia sendiri bambu telah banyak dimanfaatkan sebagai kerajinan, makanan, hingga konstruksi. Pertumbuhan bambu dapat mencapai 30 cm-100 cm dengan tinggi mencapai 40 m dan hanya perlu 3-5 tahun untuk mencapai umur dewasanya (Imriyanti, 2024).
Bambu merupakan sumber material yang kaya akan karbon dengan serat panjang yang kekuatannya tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti panel komposit. Dibandingkan dengan material konstruksi konvensional, bambu mampu menahan beban yang lebih besar meski dengan berat bambu yang lebih rendah atau dalam kata lain bambu memiliki strength to weight ratio yang tinggi. Bambu dapat digunakan sebagai material konstruksi karena sifatnya yang kuat, ulet, mudah dibentuk, ringan, dan mudah diperoleh. Bambu juga memiliki ketahanan yang tinggi terhadap angin dan gempa, sehingga mudah diperbaiki. Berdasarkan penelitian Imriyanti, sebagai bahan bangunan, bambu dapat diolah menjadi berbagai struktur seperti rangka atap, plafon, kolom dan dinding, hingga lantai. Hal ini membuktikan betapa luasnya pemanfaatan bambu itu sendiri
Tantangan Pengembangan Bambu
Meski bambu memiliki berbagai keunggulan seperti yang telah disebutkan, sebagai bahan alam, bambu masih memiliki tantangan besar dalam pemanfaatannya. Bambu sendiri memiliki kelemahan berupa sensitivitas yang tinggi terhadap air dan kelembaban. Kadar air yang tinggi dalam material bambu membuatnya mudah lapuk. Selain itu, bambu juga rentan terhadap perusak biologis seperti rayap, jamur, dan mikroorganisme lainnya. Tanpa adanya metode pengawetan yang baik, bambu tak akan bisa bertahan lebih dari 10 tahun (Suriani, 2017). Maka dari itu, metode-metode pemrosesan seperti pemanfaatan bambu menjadi komposit dengan memanfaatkannya sebagai bahan penguat dan dicampur dengan resin sebagai matriks dapat mengurangi kelemahan-kelemahan bawaan bambu.
Selain dari segi teknis, diperlukan langkah untuk menciptakan identitas tersendiri bagi konstruksi dari bambu. Hal ini dapat menjadi langkah awal harmonisasi bambu sebagai material dengan budaya dan perkembangan teknologi yang pesat sehingga keberlangsungan bambu, baik dari sisi ketersediaan maupun pemanfaatannya, tetap dapat terjaga dan lestari dengan baik. Untuk itu, tentu hal ini membutuhkan sinergi antara produsen, konsumen, hingga pemerintah sebagai regulator dan pihak yang merangkul semua elemen. Dengan begitu, maka bambu dapat menjadi pilar infrastruktur hijau di Indonesia.
Penulis:
Fauziyyah Wisnuwardhani, mahasiswa Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada yang memiliki ketertarikan pada inovasi-inovasi teknologi bidang bioproses, material, dan energi. Meski begitu, tetap terbuka terhadap topik lain melalui karya tulis yang difasilitasi oleh Tim ESID. Apabila tertarik bekerja sama maupun berbagi pandangan, penulis dapat dihubungi melalui email wisnuwfauziyyah@gmail.com.
Referensi:
Suriani, E. 2017. Bambu Sebagai Alternatif Penerapan Material Ekologis: Potensi dan Tantangannya. EMARA Indonesian Journal of Architecture. 3(1): 33-44.
Kaur, P., Gupta, M., Yadav, P., dan Khandegar, V. 2022. Bamboo as a Source for Value Added Products: Paving Way to Global Circular Economy. Bioresources.
Imriyanti. 2024. Eksplorasi Bambu Sebagai Material Berkelanjutan Pada Bangunan. Journal of Green Complex Engineering. 1(2):69-78



