Ekonomi Sirkular Dalam Membangun Industri Fashion yang Berkelanjutan

30 Apr 2024

-

ekonomisirkular.id

Ekonomi Sirkular Dalam Membangun Industri Fashion yang Berkelanjutan

Industri fashion terkenal dengan kemampuannya menghadirkan produk dan layanan yang bisa disesuaikan dengan keinginan konsumen. Proses produksinya yang fleksibel memungkinkan pembuatan produk dalam jumlah besar dengan biaya yang relatif rendah. Inovasi selalu menjadi ciri khas industri ini dengan menghadirkan gaya baru dan tren terkini yang menarik bagi banyak orang (Tinkerlust, 2022). Sifat dinamis dan inovatif ini membuka banyak peluang untuk ide-ide kreatif dan tren baru dalam dunia fashion.


Dampak Industri Fashion terhadap Lingkungan

Industri fashion, meskipun terkenal dengan inovasi dan gayanya yang selalu baru, menyimpan sisi kelam yang berdampak serius bagi lingkungan. Data PBB menunjukkan bahwa industri ini menghasilkan 8% emisi karbon global dan 20% air limbah global, serta bertanggung jawab atas seperlima dari 300 juta ton plastik yang diproduksi setiap tahun (Howell, 2017). Ironisnya, kebiasaan buruk konsumen dalam membuang pakaian bekas memperparah kerusakan ini. Hampir US$460 miliar nilai pakaian bekas dibuang setiap tahun, dan banyak yang berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibakar (EMF, 2017). Lebih dari sekadar polusi visual, tumpukan sampah pakaian bekas menjadi salah satu dampak paling serius, seperti diakui oleh 85,56% responden dalam survei Tinkerlust (2022). Fakta-fakta ini menunjukkan urgensi perubahan paradigma dan tindakan nyata dari berbagai pihak, baik industri fashion, konsumen, maupun pemerintah, untuk membangun sistem fashion yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.


Urgensi Ekonomi Sirkular dalam Industri Fashion

Di sinilah urgensi penerapan ekonomi sirkular dalam industri fashion menjadi semakin jelas. Model ekonomi ini menawarkan solusi inovatif untuk menyeimbangkan kemajuan industri dengan kelestarian lingkungan. Prinsip dasar ekonomi sirkular, yaitu meminimalisir limbah dan memaksimalkan penggunaan kembali sumber daya, membuka peluang baru bagi industri fashion untuk bertransformasi menjadi lebih berkelanjutan. Penerapan model ini bukan berarti menghambat inovasi dan kreasi dalam dunia fashion. Justru, ekonomi sirkular membuka ruang bagi ide-ide kreatif baru untuk memanfaatkan kembali bahan-bahan yang tidak terpakai, menghasilkan produk fashion yang unik dan ramah lingkungan.


Contoh Penerapan Ekonomi Sirkular dalam Industri Fashion

Beberapa contoh penerapan ekonomi sirkular dalam industri fashion telah menunjukkan keberhasilannya. Uniqlo dan Adidas, dua raksasa industri fashion global, telah mengambil langkah nyata dalam menerapkan ekonomi sirkular. Mereka menyediakan wadah bagi pelanggan untuk mengembalikan pakaian bekas yang tidak diinginkan, yang kemudian diolah menjadi produk baru atau didaur ulang (Fleming, 2020). Di Indonesia, semangat serupa juga ditunjukkan oleh merek lokal seperti Sejauh Mata Memandang. Didirikan oleh Chitra Subyakto, Sejauh Mata Memandang menjunjung tinggi prinsip fashion berkelanjutan dalam pemilihan bahan. Mereka memanfaatkan tekstil daur ulang dari bahan katun, linen, dan tencel untuk menghasilkan produk fashion yang unik dan ramah lingkungan (Tinkerlust, 2022).


Manfaat Penerapan Ekonomi Sirkular

Industri fashion Indonesia perlu bersiap menghadapi perubahan signifikan dengan beralih ke model ekonomi sirkular. Penerapan model ini diprediksi oleh UNEP (United Nations Environment Programme) akan membawa dampak ekonomi yang menguntungkan. Diperkirakan  pada tahun 2030, ekonomi sirkular bisa menghasilkan nilai 19,3 triliun rupiah (1,4 miliar USD), menciptakan 164.000 lapangan kerja, serta mendorong penghematan rumah tangga hingga hampir 172.000 rupiah (12,1 USD), serta mengurangi emisi CO2 dan penggunaan air secara signifikan, masing-masing sebesar 16,4 juta ton dan 1,2 miliar meter kubik (Tinkerlust, 2022).


Penerapan ekonomi sirkular dalam industri fashion bukanlah akhir dari inovasi dan gaya. Sebaliknya, ini adalah awal dari babak baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan. Dengan model ini, industri fashion justru memiliki peluang untuk menciptakan tren dan produk fashion yang unik serta ramah lingkungan. Kolaborasi dan komitmen dari berbagai pihak, termasuk produsen, konsumen, dan pemerintah, menjadi kunci terwujudnya masa depan industri fashion yang berkelanjutan. Konsumen yang semakin sadar akan pentingnya konsumsi yang bertanggung jawab akan mendorong lahirnya produk fashion yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, pemerintah dapat berperan dengan kebijakan yang mendukung, seperti insentif bagi pelaku usaha berkelanjutan dan edukasi publik.


Penulis: Sri Arthauli Rezeki 


Daftar Pustaka

Ellen MacArthur Foundation (EMF). (2017). A new textiles economy: Redesigning fashion’s future.


Fleming, Sean. (2020). Circular economy examples - how IKEA, Burger King, Adidas and more are investing in a circular economy. World Economic Forum. Retrieved April 19, 2024, from https://www.weforum.org/agenda/2020/12/circular-economy-examples-ikea-burger-king-adidas/ 


Howell, Stacey. (2017). Five Reasons Why People Are Interested in Fashion. LEAFtv. Retrieved April 19, 2024, from https://www.leaf.tv/articles/five-reasons-why-people-are-interested-in-fashion/ 


Tinkerlust. (2022). Tinkerlust Fashion Impact Report. Retrieved April 20, 2024, from https://www.tinkerlust.com/impact-report/fashion-impact-report.pdf

Another news

Krisis Lingkungan di Balik Banjir Bandang Sumatera Barat

related news

Menguatkan Industri Kendaraan Listrik Indonesia melalui Ekonomi Sirkular

related news

Pak Sariban Sang Penggalak Kebersihan Kota Bandung

related news

Panggung Sampah Indonesia: Ketidakmampuan Pemerintah vs Sinergi Masyarakat dalam Melawan Tumpukan Sampah

related news

Ubah Mindset Menjadi Pengolah Sampah Versi Ekonomi Sirkular

related news

Ekonomi Sirkular Dalam Membangun Industri Fashion yang Berkelanjutan

related news

Research

Penerapan Ekonomi Sirkular Dapat Membantu Usaha Bertahan Lebih Lama

related research

Manfaat pengelolaan sampah berbasis Ekonomi Sirkular: Studi kasus di Desa Sukunan, Yogyakarta

related research

Ideas

Membangun Masyarakat Sadar Sampah: Menantang Krisis Sampah di Indonesia dari Akar Permasalahannya

related ideas

Greedy Economy vs Circular Economy: Benarkah Keuntungan Merupakan Satu-satunya Indikator Kesuksesan dari Suatu Bisnis?

related ideas

Desain Produk Menjadi Kunci Ekonomi Sirkular

related ideas

Mengenal Konsep Ekonomi Sirkular

related ideas

Buah-buahan terbuang? Apa yang harus kita lakukan?

related ideas

CONTACT

+6281224212953

rizkalaliamdyharits@gmail.com

logo green

© 2022 ekonomisirkular.id