Implementasi teknologi blockchain dalam manajemen rantai pasok perusahaan kini menjadi sorotan utama, menawarkan peningkatan transparansi, keandalan, dan efisiensi operasional yang signifikan. Dengan kemampuan pelacakan yang canggih, semua pihak dalam rantai pasok dapat mengakses informasi akurat secara real-time, sehingga mengurangi waktu dan biaya yang biasanya terkait dengan proses manual.
Dalam jurnal yang ditulis oleh Utomo (2021), blockchain digambarkan sebagai teknologi berbasis kriptografi yang menggunakan prinsip buku besar terdistribusi (distributed ledgers). Teknologi ini menawarkan berbagai keunggulan, terutama dalam aspek keamanan. Menariknya, konsep buku besar terdistribusi ini memiliki kesamaan dengan prinsip yang sudah dikenal di dunia perpustakaan, yaitu LOCKSS (Lots of Copies Keep Stuff Safe). Kesamaan ini membuka peluang bagi perpustakaan untuk mengadopsi blockchain sebagai solusi inovatif.
Berdasarkan laporan dari organisasi non-profit Earth.org, Indonesia menempati peringkat ke-151 dalam Global Sustainability Index 2020, yang menjadi catatan yang cukup mengkhawatirkan. Peringkat ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu segera melakukan perbaikan dalam berbagai aspek keberlanjutan. Kehadiran perusahaan berbasis ekonomi sirkular dapat berperan sebagai pendorong positif dalam upaya pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan berorientasi lingkungan.
Inovasi rantai pasok semakin menjadi fokus utama di berbagai industri, terutama dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, fluktuasi pasar, dan kebutuhan akan keberlanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi terkini, seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan blockchain, perusahaan dapat menciptakan sistem rantai pasok yang lebih responsif dan efisien. Penggunaan teknologi IoT memungkinkan pengumpulan data secara real-time, sehingga perusahaan dapat memantau kondisi barang dan memperkirakan permintaan dengan lebih akurat. Sementara itu, AI berperan dalam menganalisis data tersebut untuk mengoptimalkan proses pengambilan keputusan, mulai dari perencanaan produksi hingga manajemen inventaris.
Dengan integrasi semua teknologi ini, rantai pasok tidak hanya menjadi lebih transparan dan efisien, tetapi juga lebih mampu beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Hal ini sangat penting dalam konteks ekonomi sirkular, di mana perusahaan dituntut untuk mengurangi limbah dan memaksimalkan penggunaan sumber daya. Inovasi dalam rantai pasok bukan hanya tentang meningkatkan profitabilitas, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.
Namun, dalam penerapannya terdapat beberapa tantangan seperti biaya implementasi yang tinggi, kompleksitas teknis, dan kurangnya standar industri masih menjadi hambatan. Untuk mengatasi isu-isu ini, kolaborasi antara industri, pemerintah, dan lembaga regulasi sangat diperlukan. Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah positif melalui Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (PM Kominfo) No. 3 Tahun 2021, yang memberikan kerangka hukum bagi penggunaan teknologi blockchain di berbagai sektor. Selain itu, Peraturan Pemerintah (PP) No. 5 Tahun 2021 PP yang mengatur mengenai Perizinan Berusaha berdasarkan tingkat Risiko kegiatan usaha. Hal ini merupakan bentuk dukungan inovasi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi adopsi solusi digital.
Dengan dukungan regulasi yang kuat dan sinergi antar pemangku kepentingan, tantangan dalam penerapan blockchain dapat teratasi, memungkinkan perusahaan untuk memanfaatkan sepenuhnya potensi teknologi ini dalam meningkatkan transparansi dan efisiensi rantai pasok mereka.
Plastic Bank telah mengambil langkah awal dalam penggunaan teknologi blockchain untuk mengatasi masalah polusi plastik sekaligus memberdayakan komunitas yang kurang beruntung. Organisasi ini menggunakan blockchain sebagai platform untuk mencatat setiap tahap siklus hidup plastik, mulai dari pengumpulan di komunitas lokal hingga proses daur ulang dan penjualan kembali sebagai Social Plastic. Dengan teknologi ini, semua transaksi tercatat secara transparan dan tidak dapat diubah, sehingga memastikan akuntabilitas tinggi dalam operasionalnya.
Selain itu, Plastic Bank memanfaatkan blockchain untuk memberikan insentif kepada para pengumpul plastik dalam bentuk token digital yang dapat ditukar dengan uang, makanan, atau layanan lainnya. Sistem ini tidak hanya meningkatkan inklusi finansial bagi masyarakat yang tidak memiliki akses ke perbankan tradisional tetapi juga mengurangi risiko penipuan dan pencurian.
Langkah inovatif ini menjadikan Plastic Bank sebagai pelopor dalam mengintegrasikan teknologi blockchain untuk menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak sosial yang signifikan bagi komunitas di seluruh dunia.
Profil Penulis:
Shafiyyah Azzahrah Milanisti, FEB UGM Manajemen 2022
Referensi:
Astuti, T & Firdaus, R. (2024). “Implementasi Teknologi Blockchain Dalam Meningkatkan Transparansi Rantai Pasok Perusahaan. JIIC: Jurnal Intelek Insan Cendikia, 1(4). Retrieved from https://jicnusantara.com/index.php/jiic/article/view/593/668
Utomo, T. P. (2021). “Implementasi Teknologi Blockchain di Perpustakaan: Peluang, Tantangan, dan Hambatan”. Buletin Perpustakaan Universitas Islam Indonesia, 4(2). 173-200. Retrieved from https://r.search.yahoo.com/_ylt=AwrO.fxR0_dn7ZQCk.ZXNyoA;_ylu=Y29sbwNncTEEcG9zAzEEdnRpZAMEc2VjA3Ny/RV=2/RE=1745504337/RO=10/RU=https%3a%2f%2fjournal.uii.ac.id%2fBuletin-Perpustakaan%2farticle%2fdownload%2f22232%2f11938/RK=2/RS=JFlGzhtysuZuHuat12P0IPiOXfI-
Sustainable Brands. (2019). “How Blockchain Is Helping The Plastic Bank Create a Global Economy of 'Social Plastic'”. Retrieved from https://sustainablebrands.com/read/how-blockchain-is-helping-the-plastic-bank-create-a-global-economy-of-social-plastic
Borgen Magazine. (2018). Plastic Bank: Blockchain Tackles Global Poverty and Ocean Plastic. Retrieved from https://www.borgenmagazine.com/plastic-bank-blockchain/



